PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM MASA DAULAH ABBASIYAH
1. Faktor Pendorong Gerakan Bani Abbas
Berdirinya Daulah Abbasiyah bermula dari gerakan bawah tanah yang dilakukan oleh Bani Abbas. Hal itu didorong oleh beberapa hal. Pertama, sistem kekhalifahan Daulah Umayyah lebih menonjolkan kedekatan nasab kekeluargaan. Sedangkan umat Islam saat itu tidak semuanya sepakat atas dominasi keluarga khalifah yang memonopoli sistem kekhalifahan Daulah Umayyah. Termasuk yang tidak sepakat terhadap monopili tersebut adalah Bani Abbas. Jika Bani Umayyah lebih menonjolkan nasab keluarga, Bani Abbas berpendapat bahwa bani Umayyah bukanlah berasal dari kelompok yang paling mulia derajat nasabnya dibandingkan dengan kelompok lainnya. Bahkan jika yang ditimbang adalah derajat nasab keluarga, kelompok bani Abbas masih lebih dekat dengan Rasulullah saw. Dan mestinya lebih pantas mewarisi kekhalifahan.
Kedua, Bani Abbas menganngap bahwa bani Umayyah mengambil tampuk kekhalifahan Islam secara paksa melalui tragedi Perang Siffin dan belum sepenuhnya disepakati oleh umat Islam. Apalagi ditambah dengan realita kepemimpinan Daulah Umayyah yang beberapa khalifahnya justru terkesan bermewah-mewahan yang kurang menjalankan ajaran Islam dengan baik. Sehingga mendorong Bani Abbas untuk mengambil alih kekuasaan Islam dari Daulah Umayyah.
2. Faktor Pendukung Terbentuknya Daulah Abbasiyah
Proses terbentuknya Daulah Abbasiyah juga didukung oleh beberapa faktor, antara lain: a. Konflik internal keluarga dan politik dalam negeri Daulah Umayyah. b. Adanya perlawanan terhadap Daulah Umayyah oleh kelompok Mawali, kelompok Dahaq bin Qais Asy-Syaibani dan kelompok Syiah yang menilai bahwa pemegang kekuasaan umat Islam adalah hak keturunan Ali bin Abi Thalib serta ingin menuntut tanggung jawab atas terbunuhnya Husein bin Ali di Karbala. c. Perpecahan yang terjadi antara suku Arab Utara dan Arab Selatan. d. Khalifah Marwan bin Muhammad (khalifah terakhir Daulah Umayyah) dianggap tidak memiliki sikap negarawan yang baik sehingga banyak tokoh dan ulama yang kecewa. e. Wafatnya khalifah Marwan bin Muhammad pada perang di tepi sungai Zab, Irak pada tahun 132H/750M.
3. Proses Terbentuknya Daulah Abbasiyah
Sebagaimana kalian yang harus melakukan ikhtiar sekuat tenaga dalam menggapai tujuan, hal yang sama dulu juga dialami oleh bani Abbas. Yang mana upaya bani Abbas dalam mencapai tujuannya, melalui berbagai tahapan proses. Mulai dari gerakan bawah tanah, kemudian menggalang dukungan masyarakat hingga akhirnya berhasil merebut kekhalifahan Daulah Islamiyah. Awal gerakan bawah tanah Bani Abbas dipelopori oleh sepupu Rasulullah saw. bernama Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas yang tinggal di daerah terpencil bernama Humaimah. Namun Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas wafat pada tahun 124 H/742 M dan usahanya tersebut dilanjutkan putranya bernama Muhammad bin Ali.
Muhammad bin Ali memiliki kecerdasan dan talenta tinggi, terlebih dalam mengatur strategi. Dia mencetuskan agar propaganda yang diusung mengatasnamakan Bani Hasyim untuk menarik simpati masyarakat luas. Dia merancang strategi yang berisi tiga rencana. Pertama, mengajak masyarakat untuk memperjuangkan pemimpin yang berasal dari keluarga Rasulullah saw. Tanpa menentukan nama tokoh tertentu tetapi perjuangan ini merata untuk semuanya. Kedua, tidak melakukan pemberontakan menggulingkan khalifah sebelum benar-benar matang persiapannya. Ketiga, menentukan tiga wilayah yaitu Humaimah, Kufah dan Khurasan sebagai pusat gerakan. Humaimah dijadikan tempat untuk mengatur dan memikirkan ide untuk mendirikan kekuasaan Abbasiyah. Kufah dijadikan sebagai titik penghubung dan penyebaran strategi karena penduduknya adalah penganut Syi’ah. Sedangkan Khurasan dijadikan sebagai tempat melakukan pergolakan. Dari Humaimah, Muhammad ibn Ali mengatur strategi dengan mengirimkan misionaris/agen dan pimpinan untuk mengawasi penyebaran misi di Kufah dan perkembangan di Khurasan. Mereka menjalankan misinya secara tersembunyi, salah satunya dengan cara berdakwah sambil berdagang. Gerakan dan propaganda secara terang-terangan dilakukan pada tahun 127 H / 745 M. Abu Muslim al-Khurasani ditugaskan untuk memimpin pasukan untuk melawan dan meruntuhkan Daulah Umayyah. Pasukan perjuangan dalam misi ini merupakan gabungan dari keturunan Ali (Alawiyyin) pemimpinnya Abu Salamah, dari keturunan Abbas (Abbasiyah) pemimpinnya Ibrahim al-Imam dan keturunan bangsa Persia pemimpinnya Abu Muslim al-Khurasani. Gabungan pasukan tersebut berdiri atas nama Abbasiyah dan dengan kekuatan senjata dipimpin oleh tentara cerdik bernama Abu Muslim al-Khurasani untuk melawan kekuatan Umayyah. Sekitar tahun 747 M, Abu Muslim al-Khurasani mengibarkan bendera hitam sebagai simbol perjuangan untuk menyatukan dukungan masyarakat. Bersama Abu Abbas Ash-Saffah, Abu Ja’far al-Manshur dan sekitar 3000 pasukan bersatu dan berhasil mengalahkan rival mereka di Khurasan, menyerang kota-kota penting Daulah Umayyah dan menguasainya, hingga berhasil mengepung khalifah Marwan bin Muhammad di Damaskus, Syiria. Daulah Umayyah benar-benar telah digulingkan oleh Abbasiyah dengan wafatnya khalifah terakhir, Marwan bin Muhammad. Sejak saat itu, berdirilah Daulah Abbasiyah yang dipimpin oleh Abu Abbas As-Saffah sebagai khalifah pertamanya dan Kufah sebagai ibu kotanya.